Membaca Aksara-Mu

Tuhan,
Aku sungguh fasih berkata
Air. Tanah. Udara. Api.
Bumi. Bulan. Matahari.
Emas. Perak. Perunggu. Besi.
Panas. Hangat. Dingin. Gigil
Lunak. Keras.
Sehat. Sakit.
Lahir. Mati.
Sedih. Derita. Senang. Bahagia.
Sunyi. Sendiri. Ramai. Bersama
Cina. Arab. Amerika. Israel. Palestina.
Mata. Telinga. Kaki. Tangan. Lidah. Gigi. Rambut. Darah. Usus. Ginjal. Hati
Semuanya. Segalanya.
Tersebut maupun tidak
Yang tampak dan yang masih tersembunyi
Adalah aksara-Mu

Tapi Tuhan,
Bilakah Engkau ejakan ?
Jiwaku masih gagap membaca

Tuban, 8 September 2017

By. Nafakhatin Nur

 

 

Damai Dalam Cinta

Bersyukurlah kita atas Indonesia. Indonesia adalah anugerah terindah dari Sang Maha Indah. Bagaimana tidak indah? Indonesia itu ibaratnya seperti pelangi. Pelangi terlihat begitu indah karena beraneka warna. Mata menjadi takjub dibuatnya. Coba andaikata pelangi hanya satu warna, maka akan terlihat biasa saja.

Dengan jumlah penduduk mencapai ratusan juta, jumlah bahasa,  suku, agama, dan lain lain yang juga tidak sedikit, secara logika menempatkan Indonesia sebagai bangsa dan negara yang rawan perpecahan. Akan tetapi, berkat Pancasila dan Bhineka Tunggal Ika, alhamdulillah sampai detik ini Indonesia tetap bersatu, tenang, damai. Kita di Indonesia bisa beraktivitas, bekerja, belajar, beribadah dengan leluasa di saat negara-negara di belahan dunia yang lain terperangkap dengan konflik tak berkesudahan. Bukankah ini juga anugerah yang harus senantiasa kita syukuri?

Bersyukur dimulai dari kata-kata. Kalau dalam agama Islam kita mengucapkan alhamdulillah sebagai tanda awal kita bersyukur kepada Allah. Lalu ucapan syukur itu diikuti dengan perbuatan kita. Kita menggunakan semua anggota tubuh kita untuk mengabdi kepada-Nya.

Selain bersyukur kepada Allah, kita semestinya juga mengucapkan syukur kepada manusia. Karena sesungguhnya belum dikatakan bersyukur kepada Allah jika belum bersyukur kepada sesama manusia. Mengucapkan syukur kepada manusia itu karena sejatinya kita tidak bisa hidup tanpa bantuan orang lain. Tak mungkin kita akan menyediakan semua kebutuhan kita sendiri tanpa keterlibatan orang lain. Untuk itulah ucapan terima kasih menjadi hal yang sangat penting bagi manusia yang mengerti tata krama.

Dan orang yang dalam kehidupannya senantiasa berusaha untuk senantiasa bersyukur atau berterima kasih baik kepada manusia maupun Allah maka ia akan merasakan damai dan cinta yang meliputi seluruh jiwanya.

Damai jiwaku, damai jiwa kita, damailah Indonesia!

——–

Di bawah ini ada teks lagu yang bagus untuk dibaca dan direnungkan. Juga audionya untuk didengarkan. Saya dapatkan di grup wa SPN ( Sahabat Pena Nusantara)
Continue reading “Damai Dalam Cinta”

Tips Membangun Keluarga Samara ( Sakinah Madawwah Wa Rahmah)

Salam blogger…

Selamat Hari Anak Nasioanal..23 Juli 2017..Selamat untuk semua anak Indonesia….Selamat juga untuk saya yang telah merasakan bagaimana indahnya masa anak-anak di bumi Indonesia tercinta ini. Semoga kedepan, lewat kita para orang dewasa anak-anak Indonesia bisa mendapatkan hak-haknya terutama di bidang pendidikan dengan lebih baik lagi. Amin.

Di hari ini saya ingin menulis sedikit tentang hal yang berkaitan dengan anak. Begini, menurut saya,menyebut anak tak bisa kita pisahkan dari menyebut keluarga. Karena keluarga merupakan lingkungan terkecil dan terdekat di sisi anak. Dan kehadiran anak juga bermula dari kehadiran keluarga baru atau pengantin baru. Terlepas dari istilah anak pungut atau anak adopsi ya ?

Berbicara tentang pengantin baru biasanya juga membicarakan tentang keluarga samara (sakinah, mawaddah wa rahmah). Lalu apa kaitannya dengan anak ? jelas sangat berkaitan dan berpengaruh. Anak-anak yang berasal dari keluarga samara pada umumnya akan tumbuh dan berkembang menjadi generasi muda yang berkarakter bagus dan kuat. Jadi, kalau kita menginginkan anak-anak yang demikian, mau tak mau, kita harus berupaya semaksimal mungkin untuk terus memperbaiki kualitas diri.

Nah, tentu ada tips-tips tentang bagaimana cara kita  mewujudkan keluarga samara. Saya menulis catatan sangat singkat dari Mauidhah Hasanah yang disampaikan oleh KH Ali Masyhuri dari Sidoarjo Jatim. Beliau menyampaikannya pada acara pernikahan Putra KH. Abdullah Ubab Maimoen. Sepasang pengantin yang berbahagia tersebut adalah : H. Raqib Ubab Maimoen dan Hj. Ruqayyatul Alya. Tips-tips tersebut juga sudah saya bagikan melalui akun instagram saya @nafakhatinnur0901 yang tersinkron dengan akun fb saya yaitu @Nafakhatin Nur Ghozali. Berikut tipsnya,

Ingin membangun keluarga samara ? Setidaknya ada 5 hal yang mesti kita lakukan :

  1. Jangan suka mencari-cari kelemahan atau kekurangan pasangan. Fokuslah pada kelebihan pasangan.
  2. Siap sedia untuk mendengarkan apapun yang disampaikan oleh pasangan sampai tuntas. Karena kalau kita ingin di dengar oleh orang lain maka belajarlah untuk bisa mendengar orang lain.
  3. Bekerja keras dan tidak bermalas-malasan dalam mencari nafkah ( bagi suami)
  4. Keduanya harus senantiasa berbakti kepada kedua orangtua
  5. Keduanya harus senantiasa memperbaiki kualitas ibadah kepada Allah.

Demikianlah catatan perjalanan saya kemarin hari Sabtu tanggal 22 Juli 2017 di Ponpes Al-Anwar 2 Sarang Rembang Jateng. Semoga bermanfaat untuk semua. Amin.